MAKASSAR — PT PLN (Persero) Unit Induk Distribusi Sulawesi Selatan, Sulawesi Tenggara, dan Sulawesi Barat (UID Sulselrabar) menjalankan sejumlah langkah percepatan untuk memulihkan keseimbangan pasokan dan kebutuhan listrik di Sistem Kelistrikan Sulawesi Bagian Selatan (Sulbagsel). Upaya itu dilakukan setelah daya mampu pembangkit hidro merosot tajam akibat kondisi hidrologi yang dipengaruhi fenomena El Nino.
General Manager UID Sulselrabar, Edyansyah, menyebut penurunan produksi terjadi pada sejumlah Pembangkit Listrik Tenaga Air (PLTA), di antaranya PLTA Poso, Bakaru, dan Malea, serta sejumlah Pembangkit Listrik Tenaga Minihidro (PLTM). Kondisi itu langsung berdampak pada kemampuan pasok sistem.
“Penurunan daya mampu pembangkit hidro menjadi salah satu tantangan yang kami hadapi dalam menjaga keseimbangan pasokan dan kebutuhan listrik di Sistem Sulbagsel. Kondisi hidrologi yang dipengaruhi fenomena El Nino berdampak pada produksi sejumlah pembangkit hidro, sehingga daya mampu pasok mengalami penurunan yang cukup signifikan,” ujar Edyansyah, Kamis, (17/9).
Angka penurunan yang dihadapi PLN cukup besar. Daya mampu pembangkit hidro yang sebelumnya berada di kisaran 850 megawatt (MW) kini berada di sekitar 250 MW, atau berkurang sekitar 600 MW.
Defisit itu membuat PLN harus mengejar tambahan pasokan dari pembangkit lain agar keseimbangan sistem Sulbagsel terjaga. Optimalisasi pembangkit yang masih tersedia menjadi salah satu jalur yang ditempuh.
PLN mempercepat proses pemulihan dan perbaikan PLTU Jeneponto yang mengalami kendala teknis. Langkah itu dijalankan bersamaan dengan optimalisasi pembangkit yang masih beroperasi serta mendorong tambahan pasokan dari pembangkit lainnya.
“Kami terus melakukan langkah-langkah percepatan secara paralel. Setiap tambahan megawatt sangat berarti untuk memperkuat sistem. Karena itu, seluruh potensi pembangkit yang tersedia terus kami optimalkan, sementara proses pemulihan dan perbaikan pembangkit juga terus dikawal,” lanjut Edyansyah.
Selain mengejar pasokan dari pembangkit, PLN berkoordinasi dengan pemerintah daerah dan pemangku kepentingan terkait untuk memitigasi dampak kondisi hidrologi. Salah satu caranya melalui pelaksanaan Teknologi Modifikasi Cuaca (TMC) guna meningkatkan potensi ketersediaan air bagi pembangkit hidro.
Di sisi operasional, PLN memantau kondisi Sistem Sulbagsel secara real time dan menyesuaikan pola operasi pembangkit dengan kondisi pasokan serta kebutuhan listrik. Penyesuaian itu dilakukan untuk menjaga kestabilan sistem sekaligus mempercepat pemulihan kapasitas pasokan.
“Kami memahami kondisi ini berdampak kepada masyarakat. Karena itu, PLN terus berupaya mempercepat pemulihan dengan mengoptimalkan seluruh sumber daya yang tersedia. Kami akan terus mengevaluasi perkembangan sistem dari waktu ke waktu agar keseimbangan suplai dan kebutuhan listrik dapat segera kembali,” pungkas Edyansyah.