Spanyol Hancurkan Prancis ke Final Piala Dunia: Sistem Lethal Bukan Sekadar Boring

Penulis: Ramli Siregar  •  Rabu, 15 Juli 2026 | 23:31:32 WIB
Lamine Yamal memenangkan penalti setelah dilanggar Lucas Digne di kotak terlarang pada babak pertama.

SULAWESI SELATAN — Laga semi-final di AT&T Stadium, Dallas, menjadi panggung pembuktian bagi Spanyol yang kerap diragukan. Jika Prancis selama ini dianggap sebagai tim favorit berkat agresivitas dan kekacauan yang mereka ciptakan, Spanyol menjawabnya dengan kontrol penuh dan eksekusi tanpa cela.

Penalti Kunci Lamine Yamal Ubah Peta Laga

Momen kritis terjadi saat Lucas Digne bersiap melakukan sapuan. Lamine Yamal, yang masih dalam masa pemulihan cedera hamstring sejak April, memanfaatkan celah tipis untuk memaksa bek Prancis melakukan pelanggaran di kotak penalti. Tak ada assist tercatat untuk Yamal, tapi aksinya menciptakan peluang dengan expected goals (xG) 0,78 — angka krusial di pertandingan sekelas semifinal.

Dari penalti itulah Spanyol unggul sebelum jeda. Keunggulan ini memaksa Prancis keluar dari zona nyaman, dan justru membuat mereka rentan terhadap serangan balik Spanyol yang terstruktur.

Rodri dan Fabian Ruiz: Duet Gelandang yang Membungkam Mbappe Cs

Di lini tengah, Rodri tampil dalam performa terbaiknya setelah musim 2025-26 yang diganggu cedera. Perannya sebagai anchor membebaskan Fabian Ruiz untuk melepaskan bola-bola panjang ke sayap. Duet ini tidak hanya memutus suplai bola ke lini depan Prancis, tapi juga menjadi fondasi penguasaan bola Spanyol yang membuat lawan kelelahan tanpa bola.

"Kami adalah tim yang ditentukan untuk membuat lawan menderita tanpa bola," demikian filosofi yang dijalankan De la Fuente sejak Euro 2024. Hasilnya, Prancis yang sebelumnya haus gol mendadak tumpul.

Kritik 'Boring' Terjawab: Kontrol vs Kekacauan

Sepanjang turnamen, skeptis menyebut Spanyol membosankan. Media AS, terutama Fox Sports, lebih menyoroti duel individu seperti Mbappe vs penguasaan bola 600 operan per pertandingan. Tapi bagi De la Fuente, hiburan bukanlah tujuan utama.

Tanpa Alvaro Morata yang absen karena performa buruk di Como, Spanyol memang kehilangan ujung tombak haus gol. Namun, sistem yang mereka bangun tetap berjalan. Nico Williams dan Lamine Yamal, meski belum pulih 100%, tetap menjadi ancaman konstan di sisi sayap. Bedanya, Spanyol kali ini tidak perlu bergantung pada satu bintang untuk mencetak gol — mereka cukup menunggu lawan melakukan kesalahan.

Final Kedua Spanyol: Perjalanan yang Berbeda dari Euro 2024

Kemenangan ini mengulangi sukses Spanyol di Euro 2024 dan Nations League 2025 saat mengalahkan Prancis di fase yang sama. Namun, perjalanan kali ini terasa lebih berat. Tanpa penampilan gemilang Lamine Yamal seperti musim lalu, Spanyol mengandalkan kolektivitas murni.

Dani Olmo menjadi kreator utama, termasuk saat memberikan umpan terobosan sempurna kepada Pedro Porro untuk gol kedua yang memastikan keunggulan dua gol. "Ini adalah sepak bola yang kami impikan sejak kecil," kata De la Fuente dalam konferensi pers usai laga. Kini, mereka tinggal selangkah lagi dari mimpi terbesar: gelar juara dunia.

Reporter: Ramli Siregar
Sumber: theguardian.com This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.
Back to top